Beragam Modus Demi Fulus

Oleh: Agustiawan

Dana Desa (DD) memang surga bagi Peratin (Kepala Desa) berotak kotor. Mereka menggunakan beragam modus untuk meraup ratusan juta fulus.

Apa saja modus demi fulus itu. Pertama, kebun milik warga dijadikan Bumdes icak- icak (pura-pura) dengan memasang baliho ukuran sedang di tengah kebun.

Kok dikatakan modus, jelas modus, sebab usai dilakukan pemeriksaan baliho ukuran sedang dicopot dan hilang dari tempatnya.

Mengapa kebun warga bisa dijadikan Bumdes icak-icak? Ya bisalah, kan tujuannya mencari fulus, lalu bagaimana dengan tim pemeriksaan kabupaten saat turun ke lapangan, bisa diatur.

Kalau sudah demikian bisa ditebak, uang ratusan juta yang bersumber dari dana desa untuk penyertaan modal Bumdes mengalir masuk kantong pribadi sang peratin.

Kedua, dana ketahanan pangan, modusnya, sang peratin mencari teman dekat yang memiliki hewan ternak jenis sapi atau kambing. Lalu hewan ternak tersebut icak-icak dibeli dari dana ketahanan pangan.

Guna meyakinkan tim pemeriksa, peratin dan teman dekatnya bersekongkol ria mengambil foto atau gambar untuk disimpan sebagai dokumentasi dan diserahkan kepada tim pemeriksa.

Hasilnya, lagi-lagi tim pemeriksa terkecoh dan percaya bahwa dana ketahanan pangan untuk pengembangan atau penggemukan hewan ternak telah terealisasi.

Padahal, dana ketahanan pangan icak-icak membeli sapi yang bernilai puluhan bahkan ratusan juta itu, kembali masuk ke kocek pribadi sang peratin hasil dari beberapa modus yang nyaris tak terendus. (*)

Ketua PWI Pesisir Barat periode 2018-2024