Pemerintah Provinsi Lampung memutuskan untuk mengembalikan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka di sekolah mulai Rabu (9/9/2026) besok. Keputusan ini diambil setelah aktivitas erupsi Gunungapi Anak Krakatau (GAK) menunjukkan tren melandai yang diikuti dengan berkurangnya paparan abu vulkanik secara signifikan di wilayah terdampak.
Hal tersebut ditetapkan berdasarkan hasil pemantauan komprehensif terhadap aktivitas vulkanik, kualitas udara, serta kondisi riil di lapangan. Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela Chalim menegaskan bahwa otoritas daerah telah mempertimbangkan berbagai aspek keselamatan sebelum membuka kembali gerbang sekolah. “Karena adanya perbaikan kualitas udara, kemudian erupsi dengan durasi yang semakin pendek dan lain sebagainya, maka kami memutuskan besok untuk kembali melakukan pembelajaran di sekolah,” ujar Wagub Jihan, Selasa (8/9/2026).
Data pemantauan menunjukkan bahwa intensitas erupsi Gunungapi Anak Krakatau mulai berkurang. Pada Selasa, gunung api tersebut tercatat mengalami empat kali erupsi antara pukul 05.00 hingga 11.34 WIB dengan durasi pendek, yakni di bawah 20 detik.
Kondisi angin yang bergerak lambat menuju barat laut dan utara turut membantu meminimalkan sebaran abu ke pemukiman warga. Indikator kualitas udara di Bandar Lampung dan sekitarnya kini berada dalam kategori sedang, dengan parameter PM10 dan PM2.5 yang menunjukkan perbaikan. Meski konsentrasi sulfur dioksida (SO2) di Bandar Lampung masih berada di kisaran 210 hingga 223 mikrogram per meter kubik, angka di wilayah lain seperti Lampung Selatan tercatat jauh lebih rendah, yakni 39,6 mikrogram per meter kubik.
Kebijakan kembali ke sekolah ini berlaku serentak untuk jenjang SD, SMP, dan SMA yang sebelumnya sempat menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama dua hari. (*)






