Mengejar Emas di Rumah Sendiri: Ambisi Futsal Lampung Mengakhiri Tradisi Runner-up

KIPRAH.CO.ID, BANDAR LAMPUNG — Ada satu mimpi yang belum benar-benar tuntas bagi futsal Lampung di ajang Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) yakni medali emas.

Bertahun-tahun, Lampung dikenal sebagai salah satu kekuatan futsal wartawan di level nasional. Namun, perjalanan panjang itu lebih sering berakhir dengan status runner-up. Kini, ketika Porwanas kembali digelar dengan Lampung sebagai tuan rumah, kesempatan untuk mengubah sejarah terbuka lebar.

Bukan sekadar tampil sebagai tuan rumah. Futsal Lampung datang dengan satu target yang tegas: juara.

Penanggung Jawab Cabang Olahraga Futsal Lampung, Herman Afrigal, menyebut target tersebut bukan sekadar ambisi tanpa dasar. Ada pengalaman, tradisi, mental bertanding, dan dukungan publik tuan rumah yang menjadi modal penting.

“Dari pertama kali ikut Porwanas, kita alhamdulillah selalu runner-up. Sekali kita juara di Bandung, kemudian runner-up di Malang, Banjarmasin, dan Sulawesi Selatan,” kata Herman.

Catatan tersebut menunjukkan satu hal: Lampung bukan pendatang baru dalam persaingan futsal wartawan nasional.

Mereka sudah merasakan atmosfer pertandingan, tekanan kompetisi, hingga pahitnya kegagalan ketika kemenangan tinggal selangkah lagi. Karena itu, Porwanas kali ini dipandang sebagai momentum untuk menuntaskan pekerjaan yang belum selesai.

“Harapannya bisa meningkatkan prestasi tersebut. Minimal sama dengan tahun kemarin, tapi harapannya bisa lebih,” ujarnya.

Sebagai tuan rumah, kontingen futsal tidak ingin lagi tampil dengan keterbatasan pemain. Pada Porwanas sebelumnya di Banjarmasin, Lampung harus membagi kekuatan. Satu tim harus bertanding di dua kategori.

Futsal Porwanas akan mempertandingkan dua kategori usia, yakni 27–39 tahun dan 40 tahun ke atas. Lampung memastikan seluruh kuota pemain akan diisi.

Sebanyak 14 pemain disiapkan untuk masing-masing kategori. Artinya, total 28 pemain akan memperkuat dua tim Lampung.

“Kalau kemarin di Banjarmasin kita seperti pendekar karena satu tim main di dua kategori, sekarang sebagai tuan rumah kita harus full team,” kata Herman.

Ketersediaan pemain dalam jumlah penuh diyakini akan memberikan ruang lebih besar bagi tim pelatih dalam mengatur strategi. Rotasi pemain pun bisa dilakukan secara lebih leluasa, terutama ketika pertandingan berlangsung dalam tempo tinggi dan membutuhkan stamina prima.

Di balik target emas, ada proses regenerasi yang sedang berjalan.

Untuk kategori senior 40 tahun ke atas, komposisi tim relatif tidak banyak berubah. Bahkan, skuad senior mendapat tambahan tenaga dari sejumlah pemain junior yang kini sudah masuk kelompok usia tersebut.

Situasinya berbeda dengan kategori 27–39 tahun.

Dari skuad sebelumnya, hanya empat pemain yang masih bertahan. Selebihnya merupakan wajah baru yang harus melewati proses seleksi.

Seleksi pun dilakukan dengan ketat. Sebab, dari para pemain yang mengikuti proses tersebut, hanya 14 orang yang nantinya dipercaya mengenakan seragam Lampung di arena Porwanas.

Bagi Herman, proses itu penting untuk memastikan pemain yang terpilih bukan hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan mental menghadapi tekanan pertandingan.

Sebab, Porwanas bukan sekadar turnamen antarkomunitas wartawan.

Di lapangan, gengsi daerah dipertaruhkan. Setiap provinsi datang dengan motivasi yang sama: menjadi yang terbaik.

Menariknya, Herman melihat reputasi Lampung justru bisa menjadi senjata sebelum pertandingan dimulai.

Ia menyebut sejumlah daerah kini enggan bertemu Lampung di fase kompetisi. Bukan semata karena kemampuan teknis, tetapi juga karena pengalaman panjang Lampung di ajang futsal Porwanas.

“Seluruh daerah itu paling enggan ketemu Lampung. Bukan kita membanggakan diri, tapi memang begitu,” ujarnya.

Bagi Lampung, reputasi tersebut akan dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi.

Pertandingan belum dimulai, tetapi pertarungan mental sudah harus dimenangkan.

“Momen itulah yang akan kita manfaatkan. Kita perang mental dulu dengan mereka,” kata Herman.

Mental menjadi penting karena dalam olahraga, kemampuan teknis tidak selalu cukup untuk memenangkan pertandingan. Ketika skor berimbang, waktu semakin menipis, dan tekanan penonton meningkat, ketenangan pemain sering menjadi pembeda.

Lampung memahami situasi itu.

Mereka pernah berada di posisi tersebut. Pernah menjadi juara, tetapi juga berkali-kali harus puas berada satu tingkat di bawah podium tertinggi.

Kini, pengalaman itu hendak diubah menjadi energi baru.

Status tuan rumah membuat target Lampung semakin besar.Dukungan penonton, atmosfer pertandingan, serta kesempatan bermain di hadapan publik sendiri diharapkan menjadi tambahan motivasi bagi para pemain.

Namun, menjadi tuan rumah juga membawa tekanan tersendiri.

Harapan untuk berprestasi datang bukan hanya dari pemain dan ofisial, tetapi juga dari masyarakat olahraga dan insan pers Lampung yang ingin melihat kontingen daerahnya tampil sebagai juara.(Feri/Prima Tim Humas Porwanas)