Doa Bukan Lampu Aladin, Saya Ditampar.!

Perlahan, saya sering merenung bersama secangkir kopi dan gorengan di pagi hari. Apa yang salah dengan doa saya? Mengapa ada doa yang tidak dikabulkan? Bukankah Allah menyuruh kita berdoa dan berjanji mengabulkannya? ‘Ud u’nii fastajiblakum’.

Sebuah buku dengan judul yang unik ‘Doa Bukan Lampu Aladin’ karangan Jalaluddin Rakhmat, membuat saya (dan mungkin kalian) merasa ditampar? Menyadari bahwa selama ini, kita dengan angkuhnya memosisikan doa sebagai perintah kepada Tuhan.

Dalam buku itu, Kang Jalal menjelaskan bahwa ada beberapa tingkatan doa; Pertama, doa mencakup harapan agar diberi sesuatu dan dilindungi. Inti dari doa ini adalah harapan untuk diri sendiri.

Kedua, doa yang sudah tidak memikirkan lagi pemberian Tuhan, kecuali keridhaan-Nya. Jika ditelisik, doa ini seharusnya menjadi sesuatu yang fundamental bukan? Sebab sejatinya, hidup ini adalah untuk menjadi keridhaan Tuhan, bukan harta, jabatan atau popularitas.

Ketiga, doa yang berisi pengakuan akan kehinaan dan kekecilan diri kita. Nah doa tipe ini mungkin agak sulit dilakukan, karena pada umumnya manusia cenderung merasa dirinya hebat, tanpa cela dan kurang.

Keempat, dan ini tingkatan yang paling tinggi adalah doa dengan bisikan cinta. Isinya mengandung rayuan seorang pecinta kepada kekasih yang dicintainya.

Untuk mengetahuinya, mari lihat doa-doa yang dilantukan Rabiah al-Adawiyah. Beliau berkata “Berikan surga itu kepada hamba-hambaMu yang lain. Bagiku, Engkau saja sudah cukup.”

Doa tahap ini tak lagi mengenal kepentingan pribadi, tetapi sanjungan kepada Tuhan akan kebesaran-Nya yang agung. Orientasi hidupnya bukan lagi kesuksesan di dunia, tetapi untuk mengabdi sebagai hamba, mendekatkan diri kepada sang kekasih- Allah semata. (*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.