Perkara Hutang, Oknum Satpam Telkom Gedong Tataan Diduga Lakukan Penganiayaan

KIPRAH.CO.ID– Diduga Perkara Hutang Berbunga Oknum Satpam Telkom Gedong Tataan Heri di duga telah melakukan tindak pidana kekerasan dan penganiayaan serta pengancaman pembunuhan terhadap Wondo Aribowo Staf Desa Begelen Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran.

“Minggu malam Senin tanggal (01/11/2020) sekitar pukul 10.00 WIB, saya sedang nongkrong di desa karang anyar, tiba – tiba datang Heri dan kawannya yang bernama Ridwan langsung menghampiri saya tanpa tanya langsung memukul dan memborgol tangan saya,” ungkap Wondo Aribowo saat ditemui di Kantor Desa Bagelen, Rabu (4/11/2020).

Setelah memborgol dan memukuli, lalu dibawa mereka ke kebun dan kembali memukul dan menendangi, serta mengancam akan membunuh jika tidak membayar hutang.

“Hutang saya sebesar Rp7 juta rupiah yang saya pinjam 3 bulan yang lalu dengan bunga Rp 700 ribu perbulan, namun karena belum gajian sudah 3 bulan ini saya belum bisa membayar hutang,” kata Wondo.

“Sudah saya cicil sebesar Rp 1 juta di bulan September lalu, untuk sisa hutang saya minta sabar pasti saya bayar, cuma dia tidak sabar karena belum gajian.”

“Saya minta jangan seperti ini, memukul, memborgol dan sampai mengancam mau membunuh, sudah saya laporkan kepihak yang berwajib senin kemarin di polsek gedong tataan dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan dengan Nomor : STPL/ B- 218/XI/2020/Polda Lampung/Res Pesawaran/Sek GD Tataan. Dengan Berdasarkan Laporan Polisi Nomor : LP/B-218/XI/2020/Res Pesawaran/Sek GD Tataan,” paparnya.

Atas perlakuan Heri dan kawannya, Wondo dan keluarga tidak terima, dan membawa ke ranah hukum, biar segera ditindaklanjuti.

“Saya dan keluarga pokoknya tidak terima atas perlakuan mereka berdua Heri dan Ridwan. Tetap masalah ini akan kami bawa ke ranah hukum yang berlaku, biar tidak ada kejadian seperti ini lagi baik pada saya ataupun orang lain agar ada efek jera,” tutup Wondo.

Sementara Heri mengatakan, itu tidak benar dan tidak pernah memukul dan sebenarnya tidak ada unsur penganiayaan. “Saya ajak teman untuk menjaga agar saya tidak emosi dan saya borgol Wondo agar tidak meronta – ronta sampai saya bawa kerumah kepala desa keadaan Wondo dalam keadaan baik – baik saja. Perkara kepalanya benjol saya tidak tahu kilahnya,” ucap Heri saat di konfirmasi melalui telpon selular.

“Sebenarnya ini urusan perut bang bagaimana bila anak istri kita nangis tidak ada beras, makanya kita jemput paksa si Wondo,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Heri jelaskan dari pihak kepolisian menyarankan untuk diupayakan dengan jalan rembuk pekon, musyawarah secara kekeluargaan dan kalau bisa jangan dibuka dulu ke media takut mempengaruhi rembuk pekon itu dan kemungkinan bisa gagal. (YD)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.