Ridho-Bachtiar Kembangkan 7 Potensi Kejayaan Pertanian

KIPRAHRAKYAT.COM– Perhatian Muhammad Ridho Ficardo dan Bachtiar Basri dalam pengembangan pertanian di Provinsi Lampung begitu banyak. Sedikitnya terdapat 7 keberhasilan yang dicapai.

Adapun keberhasilan atau kejayaan pertanian Lampung tersebut, pertama Provinsi Lampung merupakan lumbung pangan nasional. Tercatat di tahun 2016, Provinsi Lampung menargetkan produksi padi naik satu juta ton atau meningkat dari 3,3 juta ton menjadi 4,3 juta ton. Dengan kondisi ini Lampung berjaya menempati peringkat terbaik ke-4 surplus padi se- Indonesia. “Ini berkat kerja keras semua pihak, terutama petani,” ujar Ridho dalam berbagai kesempatan.

Pada tahun 2016, Lampung juga mampu mengirim beras sebanyak 30.000 ton hasil produksi petani Lampung ke Medan, Aceh, Riau dan Jambi. Sungguh suatu prestasi yang membanggakan karena dalam sejarah sebelumnya hal ini belum pernah terjadi.

Kejayaan kedua, yakni diterapkannya distribusi pupuk berpola billing system di Provinsi Lampung dimulai pertengahan Maret 2017. Ridho menilai pupuk merupakan darahnya pertanian. Karenanya, dengan distribusi pupuk billing sistem diharapkan berbagai kendala pupuk teratasi.

Ridho menuangkan komitmennya dalam dalam Pergub Lampung Nomor 99 Tahun 2016 Tentang Pola Distribusi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian di Provinsi Lampung. Sebelumnya sistem billing ini telah di uji coba di Lampung Selatan, meski terdapat beberapa kendala namun ternyata cukup berhasil dan di minati masyarakat.

Kejayaan ketiga, Ridho dinilai optimal dalam melakukan regenerasi pertanian. Dengan menggandeng Perhiptani, maka diberikan beasiswa bagi putra-putri petani. Pemikiran untuk mempertahankan SDM pertanian juga dilakukan Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP). Mereka juga menyiapkan Program Aksi Regenerasi Petani/Sumber Daya Manusia (SDM) Pertanian. Program tersebut untuk mencari bibit-bibit petani muda yang mampu menguasai teknologi pertanian serta memiliki kompetensi di bidang informasi pertanian.

Kejayaan keempat, Ridho melakukan revitalisasi pertanian, yang dikaitkan dengan perikanan, dan Kehutanan. Ini merupakan salah satu dari “Triple Track Strategy” untuk mengatasi kemiskinan, pengangguran dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hasilnya, memang sangat mengejutkan. Provinsi Lampung menjadi daerah yang pertumbuhan ekonominya di atas rata-rata nasional.

Kelima, Ridho banyak melakukan inovasi pertanian yang melibatkan penta helix pembangunan seperti akademisi, dunia usaha, pemerintah, masyarakat (petani) dan media massa. Inovasi produk pertanian mutlak melibatkan banyak unsur karena produk pertanian Lampung akan memasuki era hilirisasi. Ini juga menjadi langkah maju prioritas pengembangan industri pertanian Lampung.

Keenam, Lampung terus mengembangkan kejayaan pengolahan lahan tidur dan lahan kering. Salah satunya, Seksi Pengembangan Lahan Kering UPTD Holtikultura Dinas Pertanian Provinsi Lampung di Kecamatan Pekalongan Lampung Timur. Di lahan kering ini, banyak pernelitian dan uji coba yang dilakukan. Pengembangan lahan tidur mengarah pada peningkatan produktivitas pertanian. Bukan itu saja, sarana dan prasarana pendukung juga terus dikembangkan Ridho, termasuk rehabilitasi irigasi.

Ketujuh, Lampung terus mengembangkan kelembagaan perekonomian petani. Di tengah perkembangan BUMDes di pedesaan yang pesat, maka kelembagaan pertanian juga diperkuat. Ridho pernah mengungkapkan berdasarkan data Bank Indonesia Lampung, NTP (Nilai Tukar Petani) Lampung pernah tertinggi secara nasional.

Namun, hal ini harus diimbangi dengan penguatan posisi tawar petani. Diakui, masih banyak petani yang terjebak rentenir akibat lemahnya posisi tawar itu. Oleh sebab itu, dibutuhkan kelembagaan usaha petani yang kuat. Lampung memiliki tujuh Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Pengembangan badan usaha petani ini dirintis M.S. Joko Umar Said. (*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.