Wartawan dan Liputan Ado

Oleh: Reci Purwana

Minggu ke tiga Oktober 2018, saat tengah asyik menilik sejumlah kiriman link berita pada grup aplikasi WhatsApp di handphone, muncul sebuah pemberitaan yang memuat komentar dari ketua salah satu organisasi profesi wartawan. Setelah sesaat berselancar, jika boleh menyimpulkan isinya lagi-lagi terkait perhelatan Lampung Fair.

Mengamati isi komentar dari ketua organisasi profesi wartawan itu, bisa ditebak perkara yang sedang disorot soal adanya pengaturan jadwal peliputan, dan pembagian uang transpot (Liputan Ado).

Adanya pemberitaan itu sempat jadi pro-kontra, terutama pada kalangan jurnalis di Lampung. Beragam komentar spekulasi akhirnya bermunculan. Sejumlah wartawan beranggapan, pemberian uang transpot sah-sah saja, selama tidak memaksa dan tak memengaruhi pemberitaan.

Pada sisi lain, juga terdapat wartawan yang bersikeukeh adanya uang transpot, merupakan pelanggaran terhadap Kode Etik Jurnalistik. Sebab dianggap dapat memengaruhi independensi, terlebih pemberian tersebut dengan maksud agar berita yang ditulis selalu positif.

Untungnya, ada seorang rekan wartawan dengan sukarela bersedia mengulas lebih detail, amplop sebagai uang transpot. Menurutnya, amplop satu ini tidak ada hubungannya dengan suap menyuap, karena pemberiannya tidak berhubungan dengan suatu kasus yang dihadapi seseorang ataupun lembaga.

Amplop transport ini biasanya diberikan oleh seseorang atau lembaga, diberikan kepada wartawan dalam acara jumpa pers. Dan umumnya, sudah dianggarkan oleh pihak panitia sebagai pengganti uang transport.

Namun ada juga narasumber yang memberikan amplop secara pribadi pada wartawan, yakni sebagai ucapan terima kasih atas pemberitaan. Walau demikian, ternyata tidak semua wartawan mau menerima amplop jenis ini, dan tidak semua media mengizinkan menerima amplop meskipun bukan bertujuan suap.

Umumnya wartawan yang tidak mau menerima amplop ini, selain karena medianya melarang keras, sebagian wartawan secara pribadi juga tidak mau menerima dengan alasan tidak sesuai prinsipnya.

Nah, Anda para wartawan bagaimana menyikapi pemberian amplop ini? Tentu semua ini tergantung Anda dan peraturan media Anda bekerja. Kalau media Anda menggariskan kebijakan secara tegas dengan melarang menerima imbalan apapun dari luar yang berhubungan dengan pemberitaan baik suap maupun bukan, maka Anda harus mematuhi kebijakan itu secara tegas pula.

Tetapi kalau media mengizinkan, sementara Anda oke-oke aja, ya nggak dosa juga kalau menerima. Yang penting kan jangan memaksa meminta, apalagi sampai mengancam akan menulis berita buruk kalau tidak diberi. Namun untuk ‘amplop suap’ tentu saja Anda harus lebih tegas lagi menolak. Karena kalau Anda berani menerima, berarti juga harus berani dengan segala konsekuensi dan resikonya. (#)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.