Menolak Lupa Esensi

Oleh: Reci Purwana

Diantara hiruk pikuk rutinitas pagi hingga malam, seorang teman tiba-tiba ‘nyeletuk’ kalimat ‘lupa esensi’. Mendengar ungkapan itu, rasa penasaran mulai mengusik pikiran dan nuraniku. Apa sesungguhnya pesan yang hendak disampaikan.

Belum sempat menemukan jawaban atas pertanyaan yang masih menggelayut di benakku, teman lainnya dengan suka rela memberi penjelasan. Ia berujar, jika ingin tahu apa itu ‘lupa esensi’, maka saksikanlah para kandidat yang melakukan kampanye menjelang pemilihan kepala daerah (gubernur, bupati/walikota), atau wakil rakyat (DPR). Semuanya menginginkan masyarakat simpati, menang atau terpilih jadi tujuan pasti.

Perkara apa yang telah di umbar saat kampanye, misalkan muncul kalimat janji kalau terpilih ingin mensejahterakan masyarakat petani, nelayanan, peternak, belum lagi program unggulan seperti kesehatan, pendidikan, dan seterusnya, apakah esensinya dipahami? Jawabannya, tak ada yang tahu pasti apalagi berani menjamin realisasinya.

Sebaliknya, jika bertanya berapa banyak masyarakat menelan pil pahit karena meleset dalam memilih pemimpin atau wakil yang duduk di kursi legislatif? Mungkin bagi yang berani jujur, seluruh jari jemarinya bakal diacungkan ke atas sebagai pertanda mengamini atas kekecewaan itu.

Karenanya, seluruh calon kepala daerah dan wakil rakyat yang duduk di kursi empuk legislatif harus ingat! Ketika mengambil keputusan sebagai pemimpin atau wakil rakyat, ada pertanggung jawaban pasti. Selain laporan administrasi dan struktural dunia, ada juga akhirat surga atau neraka ganjaran amal perbuatan.

Di tengah himpitan ekonomi, masyarakat mungkin bisa dirayu menggunakan sembako dan duit, tapi tuhan tak pernah ingkar janji perkara azabnya. Dengan menyadarinya, besar harapan kesalahan serupa tak terulang lagi, semua manusia bakal mati, hisab amal perbuatan menanti. Mudah-mudahan kedepan ada perubahan yang terjadi, asal jangan lupa esensi. (*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.